by

Djauharurbar:Santri Wajib Bedah Literasi Guru Besar PB NU asal Depok. 

Berita Depok, Media Online News Indonesia, Senin (21/10). 

Santri Terbaik Alaw Depok, Djauharurbar tengah berfose. (Foto:Usman Azis)
Santri Terbaik Alaw Depok, Djauharurbar tengah berfose. (Foto:Usman Azis)

Nama Abuya KH. Abdurrahman Nawi sudah cukup dikenal seantero Jakarta dan sekitarnya. Namun, sedikit yang tau bahwa Ulama sepuh asli Depok ini merupakan salah satu Guru Besar yang pernah mengajar di Masjid PBNU kalau mudanya.

Hal itu disampaikan oleh Pendiri Abuya Nawi Studies, Djauharulbar dalam acara Hari Santri Nasional (HSN) di Ponpes Al-Awwabin Belahan belum lama ini (20/10).

“Selain menjadi guru di Masjid PB NU. Abuya juga pernah menjadi penggerak Apel Akbar Jutaan warga NU di Senayan pada tahun 1990-an, ” tukas pria yang juga Aktifis Lembaga Pendidikan Maarif NU Tangerang.

 

Hal ini juga, sambung Akbar, diakui oleh mantan ajudan Gus Dur yang tinggal di Depok almarhum Bapak Shomad.

Tak hanya itu, Abuya KH. Abdurrahman Nawi juga pernah mengikuti berbagai Muktamar NU dan menjadi pengurus NU baik di DKI Jakarta maupun Kota Depok. Menjadi penceramah Maulid Nabi SAW di Masjid Al-Munawwarah Gus Dur Ciganjur dan Pembaca Doa di Haul 1 Abad KH. Abdul Wahid Hasyim di Masjid At-Tin TMII Jakarta.

“Saat perayaan Maulid Nabi SAW di Habib Novel Jindan, pada tahun 90-an, Abuya Nawi tampak akrab dengan cucu pendiri Nahdlatul Ulama, yaitu KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur),” tuturnya.

Ia berceruta, Abuya Nawi juga bersama Habaib Jakarta pernah membuat ormas bernama Persatuan Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah dan Dai Islam Indonesia (PUAADII) yang katanya merupakan saudara kandung Nahdlatul Ulama (NU).

“Kontribusi Abuya di NU tidak ada yg meragukan, ” pungkasnya.

Lebih lanjut, akbar menjelaskan bahwa amaliyah Ahlussunnah Wal Jamaah yang berjalan di masyarakat saat ini, yaitu Tahlilan, Tawassul, dll memiliki muwafaqoh (kesesuaian) dengan al Qur’an dan Hadis. Di antaranya, persoalan belum putusnya antara orang yang meninggal dan orang yang mati dan masih dapat memberikan manfaat.

Dalilnya adalah yang dicantumkan oleh Abuya KH. Abdurrahman Nawi yaitu dalam kitabnya Pedoman Ziarah Kubur, Halaman 31-32, yaitu al Quran surah Al Hasyr: 10, dan Hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim dan Imam An Nasaiy yang menyatakan seorang ibu yang meninggal dapat hadiah pahala shadaqah dari anaknya yang masih hidup.

Begitu juga orang yang meninggal yang memiliki hutang puasa dapat digantikan oleh walinya. Sehingga hutang puasanya dapat dilunasi oleh orang lain.

Dalam kegiatan tersebut dibahas pula mengenai Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja) . Menurutnya, Aswaja diambil dari Hadis Rasulullah SAW: “Barang siapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW, maka dia meninggal dalam aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah.

(Man) 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed