Wajib Dua Jam PKB/Minggu,Mungkinkah..?

Samosir,OlnewsIndonesia,Selasa(20/02)

Finlandia, sebagai salah satu negara yang sistem pendidikannya terbaik di dunia, memprasyaratkan para gurunya mendapatkan dua jam pendidikan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) setiap minggunya.

Hal ini diyakini berdampak langsung bagi polarisasi interaksi dalam kelas, dengan aktivitas yang bermuara pada produktivitas, kreativitas, dan bahkan inovasi untuk menjamin peningkatan mutu pembelajaran yang disertai dedikasi yang tinggi, plus tingkat kesejahteraan yang mereka terima.

Di samping itu, praktik-praktik pedagogis yang bertanggung jawab tetap terpelihara dengan ragam pendekatan dan metode pembelajaran, sebagai dampak pengiring dari pendidikan tersebut.

Sebaliknya, jika kita lihat dalam konteks pendidikan di Samosir, pada saat menyusun SKP (Sasaran Kerja Pegawai) setiap tahunnya,   khususnya dalam hal PKB bidang pengembangan diri dan publikasi ilmiah, ada kesulitan yang terasa bagi para  guru untuk merencanakan pengembangan diri yang masih mengharapkan pelatihan dari dinas pendidikan kabupaten, provinsi, dan nasional, karena belum teragendakan secara teratur,  akibat dari keterbatasan anggaran untuk melaksanakan pelatihan tersebut.

Kabar baiknya adalah, dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, agenda regional SEAMEO (South East Asian Ministers of Education Organization) dengan Qitep-Qitepnya secara rutin, melaksanakan pelatihan daring dan luring, untuk jurusan sains, bahasa, matematika, dan pembelajaran berbantu TIK bagi para guru, yang walaupun dengan kuota secara terbatas dan bersaing dengan penguasaan bahasa Inggris.

Kebetulan penulis, pada tahun 2017 mengikuti dua kegiatan dari SEAMEO yaitu Science Classroom Supervision dari Qitepinscience dan Aisofoll dari Qitepinlanguage. Untuk tingkat regional, sesungguhnya masih banyak lagi jumlah pelatihan yang dapat diikuti oleh para guru untuk tingkat ASEAN.

Refleksinya adalah, para guru perlu dicerahkan dengan agenda pelatihan regional,  sembari membekali mereka dengan penguasaan bahasa Inggris, sebagai medium penyerapan ilmu hingga level skor TOEFL 550 untuk semua jurusan.

Tentu saja, perlu disusun grand design pendidikan kita di Samosir secara khusus, untuk menaikkan tingkat profesionalitas guru dalam kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial untuk dapat mandiri dan berdaya saing.

Pertemuan-pertemuan informal guru serumpun juga perlu ditumbuhkembangkan di kalangan para guru, untuk membahas praktik-praktik pedagogik terbarukan tentang pengalaman-pengalaman para guru dari negara-negara maju yang dapat diunduh dari internet, baik dalam bentuk teks, citra statis, dan citra dinamis.

Fakta lapangan menunjukkan bahwa,  pertemuan ini perlu diaktivasi secara teratur oleh pelaku pendidikan,  baik secara langsung maupun tidak langsung, sebagai kebutuhan utama untuk meningkatkan profesional tindak profesi mereka.

Secara akademis, para guru sesungguhnya telah dibekali dengan pendidikan S-1/A-IV sesuai dengan jurusannya masing-masing, namun untuk tindak profesi yang ideal harus ada PKB, dengan prinsip belajar sepanjang hayat.

Harapannya adalah, seluruh pelaku pendidikan bersatu padu untuk memicu, serta memacu kegiatan pendidikan PKB bagi para guru secara formal dan informal,  yang diharapkan bermuara pada peningkatan mutu pembelajaran dalam kelas, dengan atribut pembelajaran yang berdaya tarik, bermakna, dan dinikmati para guru dan siswa dalam atmosfir kebersamaan.

Untuk itu, perlu kebijakan dan regulasi yang mengatur dan menggerakkan  pertemuan informal ini. Alur berpikirnya adalah ketika para profesional berkumpul untuk membahas bidang mereka, pastilah di sana tip, trik, dan praktik-praktik terbaik yang dapat dibagikan untuk kemajuan tindak profesi.

Tugas kita adalah bagaimana pada tahun 2045 (seratus tahun Indonesia merdeka),  peserta didik dapat menjadi pelaku global,  yang aktif dengan menyiapkan praktik-praktik pedagogis yang berkualitas, dan daya abdi yang tinggi kepada anak-anak Samosir secara khusus, dan anak-anak bangsa secara umum,  yang dibuktikan kegairahan mengajar dan membelajarkan para peserta didik dengan prinsip, jika hendak melakukan satu tindak ajar di dalam kelas, maka guru harus melakukan tiga tindak belajar mandiri sebelum memasuki kelas dengan misi quality-driven.

Kiranya setiap daya dan upaya yang dilakukan dapat menciptakan insan yang cerdas, berkarakter, dan berbudaya serta memiliki daya saing regional dan bahkan internasional.

Semoga dalam beberapa tahun mendatang, pendidikan PKB dua jam per minggu untuk para guru di kabupaten Samosir dapat terwujud. Horas….Horas….Horas….

Oleh :
Saut Marasi Manihuruk, S.Pd.
SMP Satu Atap Negeri 4 Pangururan

LEAVE A REPLY