Membingkai Dalihan Natolu Di Sekolah

Samosir.Olnewsindonesia,Jum’at((16/02)

Salah satu dari lima isu dalam RNPK (Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan) Tahun 2018 adalah, membangun pendidikan dan kebudayaan dari pinggiran.

Jika kita kaji dalam konteks Samosir, maka sinkronisasi pendidikan dan budaya dalam bingkai Dalihan Natolu di sekolah-sekolah perlu diimplementasikan segera dan berkelanjutan.

Dan jika ini diwujudnyatakan, maka sintaksis permainan kata pendidikan yang berbudaya atau budaya yang berpendidikan akan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Juga, dalam kaitannya dengan GKT (Geopark Kaldera Toba), isu strategis keempat dari RNPK tersebut sejalan dengan upaya memadu serasikan warisan geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity yang ada di Samosir, utamanya unsur keragaman budaya.

Maka, akan menumbuh kembangkan nilai-nilai Dalihan Natolu dalam praktik kehidupan sehari-hari dikalangan masyarakat Samosir.

Adalah fakta bahwa ini bukanlah pekerjaan yang mudah, namun demikian, jika dilaksanakan pembumiannya di seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat secara konseptual, gradual, berkesinambungan, maka hal itu bukanlah keniscayaan.

Diperlukan satu konsep yang jelas dan dapat diterapkan secara masiv, utamanya melalui sekolah-sekolah mulai dari pendidikan usia dini hingga menengah. Hanya saja bagaimana merevitalisasi nilai-nilai Dalihan Natolu dalam konteks kekinian sebagai bagian dari konsep dari GKT.

Konsep Dalihan Natolu juga perlu didukung oleh trilogi pendidikan yaitu rumah, masyarakat, dan sekolah. Isunya adalah seberapa sering orang tua mengajarkan mendidik konsep Dalihan Natolu di rumah?, seberapa nyata masyarakat mempraktikkan Dalihan Natolu dalam tatanan sosial kemasyarakatan?, seberapa intensifkah, sekolah menanamkan nilai-nilai Dalihan Natolu?

Tentu saja, desain induk penanaman konsep-konsep Dalihan Natolu ini perlu disusun sedemikian rupa dengan melibatkan elemen-elemen terkait bersatu padu dalam satu komitmen untuk mewujudnyatakannya dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Secara khusus di sekolah, penanaman konsep Dalihan Natolu juga perlu diterjemahkan dalam dimensi pengetahuan seperti fakta, konsep, prosedur, dan metakognitif yang dikembangkan secara kognisi, afeksi,dan psikomotorik.

Di samping itu, bagaimana konsep Dalihan Natolu ini juga dimasukkan dalam upaya olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olah raga hingga menjadi satu kesatuan yang utuh dalam praktik kehidupan nyata sehari-hari.

Penanaman konsep ini perlu secara arif dan bijaksana dilaksanakan oleh berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung dengan memegang kata-kata bijak, “sesuatu yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan, kebiasaan akan menjadi karakter, dan karakter menjadi budaya.

Harapan kita adalah bagaimana Dalihan Natolu ini terlihat dan dapat dirasakan oleh orang-orang luar Samosir ketika mereka mengunjungi kabupaten Samosir Negeri Indah Kepingan Surga.

Jika demikian halnya, maka bukanlah keniscayaan bahwa kita secara bersama-sama dapat mewujudkan visi Samosir yaitu terwujudnya masyararakat
yang sejahtera, mandiri, dan berdaya saing berbasis pertanian dan pariwisata yang mana Dalihan Natolu menjadi pelumas dalam praktik kehidupan sehari-hari. Semoga ….

Oleh :
Saut Marasi Manihuruk, S.Pd.
Kepala SMP Satu Atap Negeri 4 Pangururan Samosir – Sumatera Utara

LEAVE A REPLY