Kyai Dahlan dalam Perspektif Pendidikan Nasional

Eko Endro Purnomo,SE,MM
Eko Endro Purnomo,SE,MM

Eko Endro Purnomo,SE,MM ( Kepala SMK Muhammadiyah 4 Cileungsi )

Pada tahun 1912 telah lahir sebuah organisasi modern berkemajuan dengan jejak-jejak dakwah yang menggembirakan bagi kaum dhuafa maupun kalangan priyayi. Kyai Dahlan sebagai pendobrak kejumudan transisi peradaban pada masa awal sebelum kemerdekaan telah banyak melahirkan sejumlah tokoh dan para generasi awal pendiri republik tercinta. Tantangan yang nyata dalam konteks dakwah selain pada persoalan tauhid, juga bagaimana keilmuan dalam bingkai pendidikan bisa dirasakan oleh kalangan bawah rakyat jelata berdiri sejajar dengan kaum priyayi, ningrat, maupun bangsawan bangsa barat yang menjajah negeri ini.

Sosok Kyai Dahlan sebagai sang inspirator telah meletakkan pondasi pencerahan dakwah melalui dunia pendidikan dengan dibukanya Sekolah Muhammadiyah di Yogyakarta. Secara beriringan para tokoh nasionalis yang juga dikenal akrab dengan Kyai Dahlan membuka berbagai kegiatan untuk mengasah keilmuan bagi generasi selanjutnya. Berdirinya sekolah Taman Siswa yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara Pahlawan Nasional, juga memberikan nuansa lain dikalangan kaum nasionalis dalam melahirkan generasi yang lebih baik pra kemerdekaan.

Secara prinsip semua pelembagaan pendidikan dan pengajaran yang dikembangkan oleh Kyai Dahlan dan Ki Hajar Dewantara bermuara pada proses akulturasi pengetahuan dan intelktual para generasi bangsa, namun di sisi lain Kyai Dahlan dalam memproyeksikan sistem pendidikan tidak hanya terpaku pada meletakkan dasar-dasar pengetahuan umum semata melainkan konsep tauhid dan cita rasa keagamaan lebih banyak tersentuh dalam aplikasi metodiknya. Hal ini dapat dilihat sampai sekarang sekolah Muhammadiyah bukan saja terlihat lihai dalam memetakan pengetahuan umum juga bisa berjalan bersamaan dengan kualitas pembangunan rohani.

Menurut Nakamura, sosok Kyai Dahlan sebagai perubah peradaban dengan karya yang sangat otentik dan berkelanjutan dirasakan manfaatnya sebagai gaya baru metode dakwah setelah Muhammad Abduh, Rasyid Ridha era pan Islamisme di timur tengah. Sesungguhnya yang dikedepankan oleh Kyai Dahlan pendidikan Muhammadiyah harus mampu memberikan effek sosial dan mewarisi nilai-nilai Islam yang otentik, sehingga pendidikan tidak kosong dalam ranah pengetahuan agama.

Searah dengan tujuan Muhammadiyah mewujudkan sebuah masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, makmur dan sejahtera sebenarnya pendidikan yang di olah oleh Kyai Dahlan bagaimana rumusan hasil pendidikan Muhammadiyah bisa memberikan warna dalam aspek kemasyarakatan dan aktifitas umum baik dalam kontek profesionalisme, maupun dalam rangka kerja dakwah.

Dengan semangat yang tiada henti menyinari negeri sudah ada ribuan sekolah TK/PAUD, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, PTM serta Pesantren sebagai bukti gerakan pendidikan Muhammadiyah yang digelorakan oleh Kyai Dahlan terus melesat menuju Indonesia Berkemajuan. Sangat pantas jika pada moment hari Pendidikan Nasional, Kyai Dahlan menjadi sosok strategis dalam merubah kondisi bangsa pra kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan.

Dari rahim sekolah Muhammadiyah kemudian lahir sosok Soedirman, Kasman Singodimedjo, Ki Bagus Hadikusumo, KH.Mas Mansur, AR.Fachrudin, Soeharto, Kahar dan lainnya tentunya sangat banyak tokoh yang sedikit banyak beririsan dengan pola dan sistem pendidikan di Muhammadiyah.

Di hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2017 sang pendobrak kejumudan ke era terang benderang melalui Organisasi Muhammadiyah Kyai Dahlan cukup layak diberikan penghargaan sebagai bapak Pendidikan Nasional karena sumbangsihnya sampai hari ini ribuan sekolah Muhammadiyah berdiri kokoh mengabdi untuk membanguan kualitas SDM bangsa Indonesia dalam meletakkan konsep pendidikan yang sangat religius dengan semanga kebangsaan. ( Inonk )

Selamat Hari Pendidikan Nasional
#muhammadiyahBerkemajuan#

LEAVE A REPLY